Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, selamat berjumpa dengan post saya ini saudara-saudari sekalian. Pada post kali ini saya akan mengetikan sebuah kisah yang mungkin pernah anda sekalian baca atau dengar. Sebuah kisah klasik, namun tersirat nilai-nilai kehidupan yang sangat positive.
oke please enjoy this story
Ini adalah kisah seorang pemuda bernama Budi (nama samaran). Dia adalah seorang musafir yang sedang melakukan perjalan jauh (jangan tanya seberapa jauhnya, karena gw gtw, pokoknya jauh) demi untuk mendapatkan sebuah ilmu yang belum pernah ia dapatkan. Hari demi hari ia berjalan tanpa kenal lelah, kampung demi kampung ia singgahi untuk mengutip sebuah ilmu yang ada disetiap kampung yang ia singgahi, sebab dalam pikirnya ilmu yang ada disetiap wilayah berbeda-beda, walaupun tujuannya sama, yaitu menimba ilmu Allah dan menyalurkannya dijalan Allah.
Tiba lah pada hari ke sekian (udah lama banget ni ceritanya ia bermusafir), ia terjebak disebuah hutan. Hutan tersebut merupakan rintangan yang harus ia lalui untuk sampai dikampung berikutnya. Selain terjebak dalam hutan, perbekalan budi yang ia bawa dari kampung sebelumnya pun sudah hampir habis (Astagfirullahalazim). Namun budi tidak pantang menyerah demi ilmu Allah yang ingin ia dapatkan. Ia terus maju berjalan melewati hutan yang membuatnya nyaris berputus asa. Usaha yang diringi dengan doa pada gusti Allah untuk melewati hutan tersebut kini membuahkan hasil (Subhannallah). Kini ia telah sampai di sebuah sungai yang jernih airnya, segeralah ia meminum air tersebut demi menghilangkan dahaga (nyeess seger..). Setelah itu beristirahat ditepi sungai, merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Rasa lapar yang begitu luar biasa ia rasakan, sebab sejak perjalanan melewati padang gurun perbekalan budi telah habis. Dalam rintihnya menahan lapar, budi berdoa : ‘ Ya Allah kuatkanlah hamba untuk menimba ilmu Mu dikampung selanjutnya, begitu banyak ilmu Mu yang maih ingin aku dapatkan dan aku amalkan di jalan Mu ya Allah”.”Amin”. Subhannallah betapa mulia doa budi, sehingga Allah memberikannya kesempatan untuk menimba ilmu dikampung berikutnya. Pertolongan Allah datang melalui sebuah apel segar yang hanyut terbawa aliran sungai, buah apel tersebut tersangkut disebuah ranting dan tepat berhenti di hadapan budi. Melihat buah apel tersebut, budi langsung mengambilnya. Dengan mengucap Alhamdulillah ia ucapkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan padanya, dan dengan mengucap Basmallah, budi memakan apel tersebut. Beeuuhh, Subhannallah rasa apel yang ia makan itu sungguh luar biasa manisnya, segera ia habiskan apel tersebut (nyamnyam). Setelah selesai memakan buah apel itu, budi bepikir bahwa apel yang baru saja ia makan pasti ada pemiliknya, tidak mungkin sebuah apel datang dengan sendirinya tanpa ada yang punya. Sehingga ia merasa menyesal, karena ia telah memakan buah apel tanpa meminta ijin dari pemilik buah apel itu. Karena rasa penyesalannya tersebut budi berniat mencari siapa gerangan pemilik buah apel yang telah ia makan, mulai lah budi menelusuri sungai dimana buah apel itu terhanyut.
Setelah lama berjalan, bertemulah budi dengan sebuah rumah, yang didalamnya terdapa pohon apel yang lebat buahnya, dan salah satu ranting yang berbuah mengahadap ke sungai. Jadilah ia mengambil kesimpulan bahwa inilah rumah pemilik buah apel yang telah ia makan. Mendekatlah budi ke depan pagar rumah pemilik pohon apel. Tengnong (bunyi bel rumah). “Assalamualaikum..” ucap slaam dari budi, namun tidak ada jawaban apa-apa dari dalam rumah itu. Sekali lagi budi mengucap salam “Assalamualaikum..”. Barulah terdengar suara langkah kaki keluar menuju halaman rumah. “Waalaikumsalam..”, sesosok lelaki tua (belum tua-tua banget/bapak”) membuka pagar dan membalas salam budi. “Ada yang bisa saya bantu wahai anak muda ?”, menyapa budi dengan muka yang ramah. “ Begini bapak, saya budi, saya seorang musafir yang sedang dalam perjalanan mencari ilmu Allah. Saya datang ke sini, karena ketika saya dalam perjalanan saya merasa lapar dan saya melihat sebuah apel tersangkut ditepi sungai ini.” (mengeluarkan sisah apel yang ia makan).” Saya merasa menyesal telah memakan apel ini tanpa memint ijin terlebih dahulu kepada pemilik apel ini, sehingga saya memutuskan untuk menelusuri sungai ini untuk mencari siapa gerangan pemilik buah apel yang saya makan. Hingga sampai rumah bapaklah saya melihat tumbuh pohon apel dan saya yakin buah apel yang saya makan ini adalah milik bapak.” Mendengat kisah dari budi, bapak pemilik rumah mempersilahkan budi masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya didalam rumah budi dipersilahkan duduk, mulai lah bapak berbicara “Baiklah anak muda, saya memang pemilik buah apel itu karena memang hanya saya yang memiliki rumah sekaligus pohon apel ditepi sungai. Namun membahas cerita mu tadi, saya piker itu bukanlah kesalahan mu nak, sebab buah apel itu jatuh dengan sendirinya dan hanyut terbawa sungai. Sehingga, tidak lah perlu kamu meminta maaf.” Budi pun berbicara, “ia bapak, memang mungkin ini bukan lah salah saya, namun saya merasa telah mencuri yang bukan hak saya, sehingga saya siap menerima hukuman dari bapak atas perbuatan saya ini.” Mendengar ucapan budi, bapak merasa bangga dengan sikap jujurnya, sehingga budi diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. “Aku akan menghukum mu sesuai dengan perbuatan mu, apapun hukumannya kamu harus terima dengan ikhlas.” Budi pun mengangguk pasrah. “Kamu saya hukum untuk mengurus dan merawat perkebunan milik saya dalam waktu 3 tahun tanpa saya bayar, namun kamu tidak perlu khawatir, kamu dapat tinggal di rumah kecil dibelakang rumah ini hingga waktu yang telah ditentukan.” Diterimalah hukuman yang bapak berikan kepada budi dengan segenap keikhlasan. Hari demi hari budi lewati dengan mengurus perkebunan tanpa dibayar demi terbalasnya rasa menyesal dirinya terhadap perbuatannya
Singkat waktu (sudah 3 tahun ceritanya), budi hendak berpamitan pada bapak dan melanjutkan perjalanan. Tapi siapa menduga, bapak melarang budi untuk pergi dari rumahnya, ia meminta budi untuk tinggal lebih lama dirumahnya. Diajaklah budi keruang tamu rumah bapak, “nak hokum memang telah menyelesaikan hukuman mu dengan sangat baik dengan merawat dan mengurus perkebunan saya namun, itu belumlah cukup untuk memaafkan kesalahan mu kepada saya atas apa yang telah kamu lakukan pada saya 3 tahun lalu.” Budi hanya terdiam menunduk mendengar ucapkan bapak dan berkata “ lalu apa kiranya yang dapat menebus dosa saya pada bapak ? apapun saya akan lakukan pak, saya hanya ingin menjadikan buah apel yang saya makan 3 tahun lalu menjadi buah yang halal karena bapak telah memaafkan perbuatan saya memakan buah apel tanpa meminta ijin pada bapak.” Bapak mu tersenyum, “nak bapak baru akan memaafkan kamu ketika kamu menikahi putrid bapak satu-satunya.” Mendengar hal itu budi tersentak kaget, ia bingung akan perkataan bapak. “ ia nak putri bapak ingin bapak nikahkan dengan kamu, tapi apakah kamu siap menerima putrid bapak dengan segala keadaan yang ada pada putrid bapak.” Semakin bingung budi dengan ucapan bapak, “memang ada apa dengan keadaan putrid bapak ?”. “keadaannya sangat terpuruk nak, kedua mata putri bapak buta, kedua kaki dan tangannya lumpuh, mulutnya bisu dan kedua telinganya tuli.” Semakin bingung dan speechless gitu budi setelah mendengar penjelasan bapak tentang putrinya. Lalu bapak bertanya pada budi, “ bagaimana nak, apakah kau siap menikah dengan putri bapak ?”. Budi terdiam mendengar pertanyaan bapak, ia ragu dan tidak percaya akan mendapat hukuman yang begitu membenani pikirannya. “saya pikirkan dahulu ya bapak.” Bapak pun memberikan waktu sehari semalam untuk budi berpikir akan hukumannya itu. Waktu semalaman itu budi pergunakan dengan maksimal demi mendapat jawaban untuk hukuman yang bapak berikan kepadanya, ia melakukan sholat istikhoroh meminta pada Allah jawaban yang baik dari yang terbaik.
Pada pagi harinya, setelah budi telah yakin akan jawabannya, ia menemui bapak, “ bapak yang terhormat, saya telah mendapatkan jawaban yang insya Allah terbaik dari yang terbaik. Apabila menikahi putri bapak saya akan mendapatkan maaf dari bapak, insya Allah saya siap menikahinya dan menjadi imam yang baik baginya dengan mencintainya atas ridho dan rahmat Allah.swt.” mendengar jawaban budi, bapak pun tersenyum bahagia. “ ayo nak budi ikut bapak menemui putri bapak.” Diajaklah budi kesebuah ruangan di atas rumah bapak, “masukalah nak budi, disana calon istri mu berada, temuilah dia.” Dengan mengucap basmallah budi melangkahkan kakinya mendekati sebuah kamar yang ditunjukkan bapak padanya. Toktoktok (bunyi pintu diketok), “Assalammualaikum..” ucap salam dari budi. “Waalaikumsalam.” Jawab seseorang dari dalam kamar. Budi kaget dan juga bingun kembali meresap dihatinya, dia sempat berpikir bahwa ia salah kamar. “masuk lah nak, tunggu apa lagi.” Ucap bapak kepada budi. Budi pun membuka pintu kamar, dan dilihatnya sebuah kamar yang kecil dan rapih dengan nuansa sederhana yang nyaman dan sejuk. Ketika sedang asik melihat sekeliling kamar, tiba-tiba budi dikagetkan dengan suara langkah kaki yang mendekatinya. “ Assalamualaikum mas..” jawab seorang gadis cantik wajahnya yang dihiasi dengan krudung dan busana muslim yang indah melengkapi kecantikan gadis itu. “Waalaikumsalam. Apakah kau putri dari bapak pemilik rumah ini ?”, tanya budi. “Iya mas, saya putrid bapak pemilik rumah ini, nama saya Sarah (nama samaran juga ini).” Jawab gadis yang saat ini berada dihadapan budi. “Tatata..pi bukankah ?” belum selesai budi berbicara, bapak masuk kedalam kamar, dan menjelaskan maksud dari pada perkataannya kemarin pada budi tentang keadaan putrinya. “nak budi, nak budi. Benarlah sarah putrid bapak, dan benarlah juag apa yang bapak katakana pada kamu kemarin tentang dirinya. Kedua mata sarah buta maksudnya dia tidak pernah sekali pun melihat hal-hal yang Allah haramkan untuk dilihat, kedua tangan dan kakinya pun lumpuh maksudnya sarah tidak pernah sekali pun menggunakan tangannya untuk perbuatan-perbuatan keji dan mungkar yang Allah larang dan ia juga tidak pernah sekali pun pergi dengan kakinya ketempat-tempat maksiat atau tempat lain yang Allah haramkan, ia hanya pergi ketempat majelis diadakan, telinganya tuli maksudnya sarah tidak pernah mendengarkan berita-berita tentang keburukan orang-orang lain yang belum pasti kebenarannya, dan mulutnya bisu maksudnya sarah hanya menggunakan mulutnya untuk membaca Al-Quran dan berkata hal-hal yang baik, tidak sekalipun ia berkata buruk, berkata aib orang lain, atau berkata-kata kasar lainnya. Itulah maksud dari pada penjelasan bapak kemarin tentang putrid bapak sarah.” Budi hanya terdiam, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya mendengar penjelasan bapak. Ia mendapatkan banyak ilmu dirumah bapak, terutama ilmu ikhlas dan sabar pada kehidupan yang Allah berikan kepadanya untuk ia jalani.
Alhamdulillah selesai sudah cerita saya ini, semoga apa yang tersirat dalam kisah ini dapat kita kutip hikmahnya dan kita jalani dikehidupan kita.
AMIN.
Akhir kata
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Salam creator : Harry Setiawan
oke please enjoy this story
Ini adalah kisah seorang pemuda bernama Budi (nama samaran). Dia adalah seorang musafir yang sedang melakukan perjalan jauh (jangan tanya seberapa jauhnya, karena gw gtw, pokoknya jauh) demi untuk mendapatkan sebuah ilmu yang belum pernah ia dapatkan. Hari demi hari ia berjalan tanpa kenal lelah, kampung demi kampung ia singgahi untuk mengutip sebuah ilmu yang ada disetiap kampung yang ia singgahi, sebab dalam pikirnya ilmu yang ada disetiap wilayah berbeda-beda, walaupun tujuannya sama, yaitu menimba ilmu Allah dan menyalurkannya dijalan Allah.
Tiba lah pada hari ke sekian (udah lama banget ni ceritanya ia bermusafir), ia terjebak disebuah hutan. Hutan tersebut merupakan rintangan yang harus ia lalui untuk sampai dikampung berikutnya. Selain terjebak dalam hutan, perbekalan budi yang ia bawa dari kampung sebelumnya pun sudah hampir habis (Astagfirullahalazim). Namun budi tidak pantang menyerah demi ilmu Allah yang ingin ia dapatkan. Ia terus maju berjalan melewati hutan yang membuatnya nyaris berputus asa. Usaha yang diringi dengan doa pada gusti Allah untuk melewati hutan tersebut kini membuahkan hasil (Subhannallah). Kini ia telah sampai di sebuah sungai yang jernih airnya, segeralah ia meminum air tersebut demi menghilangkan dahaga (nyeess seger..). Setelah itu beristirahat ditepi sungai, merebahkan tubuhnya yang kelelahan. Rasa lapar yang begitu luar biasa ia rasakan, sebab sejak perjalanan melewati padang gurun perbekalan budi telah habis. Dalam rintihnya menahan lapar, budi berdoa : ‘ Ya Allah kuatkanlah hamba untuk menimba ilmu Mu dikampung selanjutnya, begitu banyak ilmu Mu yang maih ingin aku dapatkan dan aku amalkan di jalan Mu ya Allah”.”Amin”. Subhannallah betapa mulia doa budi, sehingga Allah memberikannya kesempatan untuk menimba ilmu dikampung berikutnya. Pertolongan Allah datang melalui sebuah apel segar yang hanyut terbawa aliran sungai, buah apel tersebut tersangkut disebuah ranting dan tepat berhenti di hadapan budi. Melihat buah apel tersebut, budi langsung mengambilnya. Dengan mengucap Alhamdulillah ia ucapkan rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan padanya, dan dengan mengucap Basmallah, budi memakan apel tersebut. Beeuuhh, Subhannallah rasa apel yang ia makan itu sungguh luar biasa manisnya, segera ia habiskan apel tersebut (nyamnyam). Setelah selesai memakan buah apel itu, budi bepikir bahwa apel yang baru saja ia makan pasti ada pemiliknya, tidak mungkin sebuah apel datang dengan sendirinya tanpa ada yang punya. Sehingga ia merasa menyesal, karena ia telah memakan buah apel tanpa meminta ijin dari pemilik buah apel itu. Karena rasa penyesalannya tersebut budi berniat mencari siapa gerangan pemilik buah apel yang telah ia makan, mulai lah budi menelusuri sungai dimana buah apel itu terhanyut.
Setelah lama berjalan, bertemulah budi dengan sebuah rumah, yang didalamnya terdapa pohon apel yang lebat buahnya, dan salah satu ranting yang berbuah mengahadap ke sungai. Jadilah ia mengambil kesimpulan bahwa inilah rumah pemilik buah apel yang telah ia makan. Mendekatlah budi ke depan pagar rumah pemilik pohon apel. Tengnong (bunyi bel rumah). “Assalamualaikum..” ucap slaam dari budi, namun tidak ada jawaban apa-apa dari dalam rumah itu. Sekali lagi budi mengucap salam “Assalamualaikum..”. Barulah terdengar suara langkah kaki keluar menuju halaman rumah. “Waalaikumsalam..”, sesosok lelaki tua (belum tua-tua banget/bapak”) membuka pagar dan membalas salam budi. “Ada yang bisa saya bantu wahai anak muda ?”, menyapa budi dengan muka yang ramah. “ Begini bapak, saya budi, saya seorang musafir yang sedang dalam perjalanan mencari ilmu Allah. Saya datang ke sini, karena ketika saya dalam perjalanan saya merasa lapar dan saya melihat sebuah apel tersangkut ditepi sungai ini.” (mengeluarkan sisah apel yang ia makan).” Saya merasa menyesal telah memakan apel ini tanpa memint ijin terlebih dahulu kepada pemilik apel ini, sehingga saya memutuskan untuk menelusuri sungai ini untuk mencari siapa gerangan pemilik buah apel yang saya makan. Hingga sampai rumah bapaklah saya melihat tumbuh pohon apel dan saya yakin buah apel yang saya makan ini adalah milik bapak.” Mendengat kisah dari budi, bapak pemilik rumah mempersilahkan budi masuk ke dalam rumahnya. Sesampainya didalam rumah budi dipersilahkan duduk, mulai lah bapak berbicara “Baiklah anak muda, saya memang pemilik buah apel itu karena memang hanya saya yang memiliki rumah sekaligus pohon apel ditepi sungai. Namun membahas cerita mu tadi, saya piker itu bukanlah kesalahan mu nak, sebab buah apel itu jatuh dengan sendirinya dan hanyut terbawa sungai. Sehingga, tidak lah perlu kamu meminta maaf.” Budi pun berbicara, “ia bapak, memang mungkin ini bukan lah salah saya, namun saya merasa telah mencuri yang bukan hak saya, sehingga saya siap menerima hukuman dari bapak atas perbuatan saya ini.” Mendengar ucapan budi, bapak merasa bangga dengan sikap jujurnya, sehingga budi diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya. “Aku akan menghukum mu sesuai dengan perbuatan mu, apapun hukumannya kamu harus terima dengan ikhlas.” Budi pun mengangguk pasrah. “Kamu saya hukum untuk mengurus dan merawat perkebunan milik saya dalam waktu 3 tahun tanpa saya bayar, namun kamu tidak perlu khawatir, kamu dapat tinggal di rumah kecil dibelakang rumah ini hingga waktu yang telah ditentukan.” Diterimalah hukuman yang bapak berikan kepada budi dengan segenap keikhlasan. Hari demi hari budi lewati dengan mengurus perkebunan tanpa dibayar demi terbalasnya rasa menyesal dirinya terhadap perbuatannya
Singkat waktu (sudah 3 tahun ceritanya), budi hendak berpamitan pada bapak dan melanjutkan perjalanan. Tapi siapa menduga, bapak melarang budi untuk pergi dari rumahnya, ia meminta budi untuk tinggal lebih lama dirumahnya. Diajaklah budi keruang tamu rumah bapak, “nak hokum memang telah menyelesaikan hukuman mu dengan sangat baik dengan merawat dan mengurus perkebunan saya namun, itu belumlah cukup untuk memaafkan kesalahan mu kepada saya atas apa yang telah kamu lakukan pada saya 3 tahun lalu.” Budi hanya terdiam menunduk mendengar ucapkan bapak dan berkata “ lalu apa kiranya yang dapat menebus dosa saya pada bapak ? apapun saya akan lakukan pak, saya hanya ingin menjadikan buah apel yang saya makan 3 tahun lalu menjadi buah yang halal karena bapak telah memaafkan perbuatan saya memakan buah apel tanpa meminta ijin pada bapak.” Bapak mu tersenyum, “nak bapak baru akan memaafkan kamu ketika kamu menikahi putrid bapak satu-satunya.” Mendengar hal itu budi tersentak kaget, ia bingung akan perkataan bapak. “ ia nak putri bapak ingin bapak nikahkan dengan kamu, tapi apakah kamu siap menerima putrid bapak dengan segala keadaan yang ada pada putrid bapak.” Semakin bingung budi dengan ucapan bapak, “memang ada apa dengan keadaan putrid bapak ?”. “keadaannya sangat terpuruk nak, kedua mata putri bapak buta, kedua kaki dan tangannya lumpuh, mulutnya bisu dan kedua telinganya tuli.” Semakin bingung dan speechless gitu budi setelah mendengar penjelasan bapak tentang putrinya. Lalu bapak bertanya pada budi, “ bagaimana nak, apakah kau siap menikah dengan putri bapak ?”. Budi terdiam mendengar pertanyaan bapak, ia ragu dan tidak percaya akan mendapat hukuman yang begitu membenani pikirannya. “saya pikirkan dahulu ya bapak.” Bapak pun memberikan waktu sehari semalam untuk budi berpikir akan hukumannya itu. Waktu semalaman itu budi pergunakan dengan maksimal demi mendapat jawaban untuk hukuman yang bapak berikan kepadanya, ia melakukan sholat istikhoroh meminta pada Allah jawaban yang baik dari yang terbaik.
Pada pagi harinya, setelah budi telah yakin akan jawabannya, ia menemui bapak, “ bapak yang terhormat, saya telah mendapatkan jawaban yang insya Allah terbaik dari yang terbaik. Apabila menikahi putri bapak saya akan mendapatkan maaf dari bapak, insya Allah saya siap menikahinya dan menjadi imam yang baik baginya dengan mencintainya atas ridho dan rahmat Allah.swt.” mendengar jawaban budi, bapak pun tersenyum bahagia. “ ayo nak budi ikut bapak menemui putri bapak.” Diajaklah budi kesebuah ruangan di atas rumah bapak, “masukalah nak budi, disana calon istri mu berada, temuilah dia.” Dengan mengucap basmallah budi melangkahkan kakinya mendekati sebuah kamar yang ditunjukkan bapak padanya. Toktoktok (bunyi pintu diketok), “Assalammualaikum..” ucap salam dari budi. “Waalaikumsalam.” Jawab seseorang dari dalam kamar. Budi kaget dan juga bingun kembali meresap dihatinya, dia sempat berpikir bahwa ia salah kamar. “masuk lah nak, tunggu apa lagi.” Ucap bapak kepada budi. Budi pun membuka pintu kamar, dan dilihatnya sebuah kamar yang kecil dan rapih dengan nuansa sederhana yang nyaman dan sejuk. Ketika sedang asik melihat sekeliling kamar, tiba-tiba budi dikagetkan dengan suara langkah kaki yang mendekatinya. “ Assalamualaikum mas..” jawab seorang gadis cantik wajahnya yang dihiasi dengan krudung dan busana muslim yang indah melengkapi kecantikan gadis itu. “Waalaikumsalam. Apakah kau putri dari bapak pemilik rumah ini ?”, tanya budi. “Iya mas, saya putrid bapak pemilik rumah ini, nama saya Sarah (nama samaran juga ini).” Jawab gadis yang saat ini berada dihadapan budi. “Tatata..pi bukankah ?” belum selesai budi berbicara, bapak masuk kedalam kamar, dan menjelaskan maksud dari pada perkataannya kemarin pada budi tentang keadaan putrinya. “nak budi, nak budi. Benarlah sarah putrid bapak, dan benarlah juag apa yang bapak katakana pada kamu kemarin tentang dirinya. Kedua mata sarah buta maksudnya dia tidak pernah sekali pun melihat hal-hal yang Allah haramkan untuk dilihat, kedua tangan dan kakinya pun lumpuh maksudnya sarah tidak pernah sekali pun menggunakan tangannya untuk perbuatan-perbuatan keji dan mungkar yang Allah larang dan ia juga tidak pernah sekali pun pergi dengan kakinya ketempat-tempat maksiat atau tempat lain yang Allah haramkan, ia hanya pergi ketempat majelis diadakan, telinganya tuli maksudnya sarah tidak pernah mendengarkan berita-berita tentang keburukan orang-orang lain yang belum pasti kebenarannya, dan mulutnya bisu maksudnya sarah hanya menggunakan mulutnya untuk membaca Al-Quran dan berkata hal-hal yang baik, tidak sekalipun ia berkata buruk, berkata aib orang lain, atau berkata-kata kasar lainnya. Itulah maksud dari pada penjelasan bapak kemarin tentang putrid bapak sarah.” Budi hanya terdiam, perlahan air matanya menetes membasahi pipinya mendengar penjelasan bapak. Ia mendapatkan banyak ilmu dirumah bapak, terutama ilmu ikhlas dan sabar pada kehidupan yang Allah berikan kepadanya untuk ia jalani.
Alhamdulillah selesai sudah cerita saya ini, semoga apa yang tersirat dalam kisah ini dapat kita kutip hikmahnya dan kita jalani dikehidupan kita.
AMIN.
Akhir kata
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatu
Salam creator : Harry Setiawan


